Rabu, 30 September 2020

Published September 30, 2020 by with 0 comment

Independent Protection Layer (IPL) adalah

     Halo semua, kali ini aku akan coba bahas tentang Independent Protection Layer (IPL) yang sebelumnya aku bahas di tulisanku tentang Process Control ini. Oke tanpa berpanjang lebar mari langsung saja kita ke pembahsan IPL ini.

Pengertian Independent Protection Layer (IPL)

    Independent Protection Layer adalah sebuah device, sistem, atau sebuah tindakan yang mampu mencegah suatu kejadian yang dampaknya tidak diinginkan tanpa dipengaruhi oleh kejadian atau tindakan dari layer proteksi lainnya. Oke akan coba kuperjelas, jadi IPL ini punya beberapa layer atau lapisan nah setiap lapisan ini merupakan sebuah sistem, device atau tindakan. Namun, setiap lapisan ini independen (tidak tergantung/dipengaruhi) oleh lapisan-lapisan lainnya. Pengertian dari IPL ini disadur dari AIChe. AIChe adalah singkatan dari American Institute of Chemical Engineers, untuk lebih jelasnya silahkan untuk membaca link ini

        Gambar di bawah ini merupakan lapisan-lapisan dari IPL, ingat ya setiap lapisan independen atau tidak bergantung/dipengaruhi oleh lapisan lain. 


Lapisan-Lapisan pada IPL (Source1)

        Setiap layer dari IPL ini memiliki karakteristik yang digunakan untuk mengatasi atau mencegah suatu kejadian yang tidak diinginkan agar tidak terjadi. Berikut ini akan kujelasin masing-masing karakteristik dari setiap layer. 

1. Process Design

    Process harus didesain sedimikian sehingga plant dapat dikatakan/diasumsikan aman. Process design ini diasumsikan aman ketika beberapa skenario seperti pump blowdown, kelebihan tekanan pada vessel dll. tidak terjadi.

2. Basic Process Control System (BPCS)

    Ini yang kemarin sempat aku bahas ditulisanku yang ini. BPCS ini memegang peranan penting yakni menjaga kondisi aman saat plant beroperasi secara normal. Kegagalan pada BPCS dapat menjadi sebuah kejadian awal (initiating event). Seorang engineer harus mengevaluasi keefektifan dari akses kontrol dan sistem keamanannya karena human error dapat menurunkan performa (keefektifan) dari BPCS.

3. Alarm and Operator Response

    Sistem ini merupakan proteksi level kedua saat kondisi normal operasi. Alarm digunakan untuk menarik perhatian operator terhadap kondisi aktual yang tidak sesuai dengan kondisi yang sudah ditentukan pada saat plant beroperasi secara normal. Kondisi seperti ini membutuhkan sebuah tindakan atau intervensi yang dilakukan oleh operator sehingga intervensi ini memiliki pengaruh terhadap keselamatan dari plant tersebut. 

4. Safety Instrumented Systems (SIS)

    SIS didesain untuk merespon kondisi plant yang berada dalam posisi hazardous (bahaya) dan jika tidak ada aksi untuk mengatasinya maka dapat meningkatkan level dari bahaya yang akan terjadi. SIS harus memberikan tindakan yang tepat untuk mencegah terjadinya bahaya atau memitigasi konsekuensi dari bahaya tersebut. 
    SIS merupakan kombinasi dari sensor, logic solver dan actuator (final element) yang memiliki antar-muka dengan user dan basic process control system. 

5. Physical Protection (Relief Valve, Rupture Disc dll.)

    Physical protection ini berbentuk device seperti relief valve, rupture disc dll. yang digunakan untuk proteksi tingkat lanjut untuk mencegah kelebihan pressure ketika desain, ukuran (size), manufaktur dan maintenance dilakukan dengan benar. 

    Physical protection ini dibagi menjadi 2 yakni pre-release dan post-release. Pre-release itu contohnya adalah relief valve dan rupture disc. Post release itu contohnya adalah dike, blast walls dll. 

6. Plant Emergency Response

    Plant emergency response ini akan diterapkan jika plant sudah tidak bisa lagi di-handle oleh sistem-sistem dan device-device di lapangan, maka keselamatan para operator dan engineer yang berada di dalam plant harus diselamatkan. Para operator dan engineer ini akan melakukan penyelamatan diri dan bertemu di titik kumpul (muster point) yang telah ditentukan. 

7. Community Emergency Response

    Community Emergency Response merupakan layer yang tidak diharapkan terjadi pada pengoperasian plant. Jika ini harus terjadi maka insiden ini telah memiliki dampak yang sangat besar tidak hanya terhadap plant tetapi terhadap area atau wilayah di sekitar plant tersebut, oleh karena itu untuk menanggulanginya membutuhkan bantuan dari luar seperti pemadam kebakaran, ambulance serta pihak-pihak yang berwenang dalam pengambilan keputusan di wilayah tersebut. Dalam hal ini perusahaan owner dari plant akan mendapatkan masalah yang besar dan harus diselesaikan, oleh karena itu sebisa mungkin plant/pabrik tidak terjadi insiden yang sampai memiliki dampak terhadap community di suatu wilayah tertentu. 


Jadi itu tadi penjelasan singkat tentang Independent Protection Layer (IPL) ini. Semoga dapat bermanfaat. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca blog ini. Jika ada yang ingin didiskusikan, saran serta masukan silahkan untuk berkomentar di bawah ini ya! Sampai berjumpa di tulisanku yang lainnya.





Read More
    email this       edit

Minggu, 27 September 2020

Published September 27, 2020 by with 2 comments

Process Control, Ini dia Penjelasannya!

    Halo Semua, di konten ke-5 ini aku akan coba bahas Pengenalan tentang Process Kontrol. Tujuannya adalah untuk memahami role/tugas dari Process Control dan memahami pengaplikasian role dari process control. Mari kita langsung saja bahas untuk pengenalan tentang Process Kontrol ini.

Process Control Overview





  Kontrol/kendali, definisi dari kata tersebut sebelumnya sudah pernah dibahas di postinganku ini. Silahkan dibaca lagi, di sini aku akan coba bahas lebih advance lagi, yakni Process Control. Process control ini adalah sebuah kontrol/kendali yang digunakan untuk memenuhi syarat-syarat agar process dalam sebuah plant dapat beroperasi. Untuk memenuhi syarat-syarat tersebut, kondisi operasi harus dimonitor secara kontinyu (terus menerus) dan manipulasi variabel-variabel proses pada plant harus dilakukan. Inilah yang dinamakan dengan Process Control. 


Syarat-syarat Pengoperasian Plant 

    Lalu apa ajasih syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk pengoperasian process dalam sebuah plant itu?

1. Proses operasi berjalan dengan aman (safe)

2. Peningkatan produktivitas

3. Menjaga kualitas dari sebuah produk

4. Menjaga agar operasi plant tetap "fleksibel". Fleksibel di sini dapat diartikan bahwa kita bisa memastikan pabrik ini dapat dengan mudah melakukan ekspansi untuk peningkatan produktivitas. 

5. Memenuhi regulasi pemerintah untuk menjaga lingkungan hidup di sekitar plant.


Tujuan Process Control

 Untuk memenuhi syarat-syarat di atas, proses kontrol memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengeliminasi disturbance / gangguan pada process

2. Untuk melakukan stabilisasi operasi pada plant

3. Untuk optimalisasi performansi operasional dari plant


Metode Kontrol

    Untuk mengaplikasikan tujuan-tujuan dari proses kontrol di atas, maka diperlukan metode-metode kontrol. Salah satu metode kontrol yang sering digunakan dalam proses kontrol adalah Feedback Control. Sebenarnya metode-metode kontrol ini tidak hanya feedback control, ada juga metode kontrol lain yang juga digunakan untuk pengaplikasian tujuan dari proses kontrol ini. Contohnya adalah feed-forward control, cascade control, split-range control dan ratio control. Untuk metode-metode kontrol ini akan dijelaskan pada postingan-postingan selanjutnya. 


 Independent Protection Layer (IPL)

IPL (Source)

    Process Control ini merupakan salah satu bagian dari Independent Protection Layer (IPL) pada Layer kedua yakni BPCS (Basic Process Control System). Untuk IPL ini penjelasan singkatnya adalah sebuah device, sistem atau aksi yang terdiri dari beberapa layer (lapisan) dan digunakan untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan. Untuk lebih jelasnya akan coba kujabarin di postinganku ini.

 

    Demikian pengenalan singkat tentang Process Control ini, untuk postingan selanjutnya akan dibahas tentang metode-metode kontrol. Sudah sempat aku bahas sedikit di postingan ini, nanti akan aku bahas secara lebih detail di postingan selanjutnya. So stay tune terus di blog-ku ini. Terimakasih atas kunjungannya, semoga postingan ini bisa bermanfaat. Jika ada pertanyaan, saran dan sanggahan mari kita diskusikan di kolom komentar. See you on the next content!

 

     

 

 



Read More
    email this       edit

Selasa, 22 September 2020

Published September 22, 2020 by with 2 comments

Instrument Index: Ini penjelasan dan kegunaannya!

    Halo semua, di postingan ke-4 ini aku akan coba bahas tentang sedikit penjelasan tentang P&ID jilid 2 dan Instrument Index. Tanpa perlu berpanjang lebar kita langsung saja masuk ke pembahasan pertama.

P&ID Jilid 2

    Di postingan ke-3, aku udah jelasin sedikit banyak tentang PFD dan P&ID kali ini aku akan coba bahas kembali untuk P&ID lanjutan dari postingan yang sebelumnya. Pembahasan lanjutan ini akan difokuskan dengan cara membaca P&ID. Seperti yang kujelasin sebelumnya, P&ID adalah sebuah diagram yang menjelaskan secara detail semua equipment-equipment, piping, instrumentasi, serta control device yang dibutuhkan untuk menggambarkan berjalannya sebuah proses pada suatu plant. Jadi pembacaan P&ID ini kita fokuskan ke field instrument dan kontrol device. 

Contoh:

Berikut ini juga aku kasih referensi Symbol & Legend P&ID 


Referensi Symbol & Legend

    Di atas adalah salah satu contoh gambar yang saya ambil dari P&ID, cara paling mudah untuk identifikasi adalah, pertama kita lihat Tag number dari instrument tersebut. Jadi ada 2 tag number yang pertama adalah 482-TT-311 dan 482-TI-311. TT berarti dia Temperature Transmitter dan TI adalah Temperature Indicator. Untuk penomoran 482 dan 311 itu menunjukkan nomor dari major equipment dan tag number sequence. Kemudian lihat tanda dari TT, terlihat bulat seperti balon. Di P&ID bagian symbol and legend tanda seperti balon ini mengidentifikasi bahwa Tag Number itu terletak di lapangan atau biasa disebut dengan field mounted. Di standard internasional juga menyebutkan demikian. Untuk tanda dari TI, terlihat seperti balon kemudian ada kotak dan garis ditengah-tengah balon itu. Kalo di symbol and legend artinya Tag Number itu letaknya ada di DCS dan dapat diakses oleh operator dalam Control Room. Kok bisa Tag Numbernya di DCS? Emang ada instrument di DCS? Jadi Tag Number TI ini adalah indicator atau sebuah indikasi saja. Indikasi ini dapat di assign ke dalam DCS dan ditampilkan di HMI pada komputer. Mari kita baca satu lagi contoh P&ID.

Contoh 2: 










    Contoh yang ke-2 ini adalah satu kontrol sistem. Jadi pada gambar di atas terdapat 5 Tag Number. Sebentar, itu bukannya cuma ada 3 Tag Number ya? Nanti akan kujelasin, jadi sama seperti sebelumnya, ada symbol mirip balon, simbol mirip balon kemudian ada kotaknya dan ditengahnya ada garisnya kemudian ada lagi symbol belah ketupat ada kotaknya dan juga ada garis ditengah belah ketupat itu. Oke untuk yang symbol balon dan balon kotak sudah pada tahu ya, selanjutnya adalah simbol belah ketupat, jadi kalo kita mengacu pada symbol & legend P&ID ini, simbol itu dapat diidentifikasi sebagai sistem untuk fungsi emergency shutdown dan fire & gas, jadi simbol ini ada di sistem emergency shutdown atau biasa disebut ESD dan sistem fire & gas atau biasa disebut dengan FGS, kemudian simbol ini juga terdapat di control room yang dapat diakses oleh operator. 

    Nah aku jelasin kenapa ada 5 Tag number yang ada di P&ID itu, sebelumnya inget kan kalau Tag Number bisa di-assign ke DCS, nah di sini juga begitu, ada 2 Tag Number tambahan yang bisa di-assign ke DCS, yakni Level Alarm High dan Level Alarm Low, kalau kita lihat di simbol LIC di sebelah kotak ada huruf H dan huruf L, itu menandakan bahwa ada alarm yang digunakan dalam sistem pengendalian level ini. Sehingga Tag Number ini ketambahan 2 dari alarm tersebut yang nantinya akan di-assign di DCS dan akan dimunculkan di HMI DCS menjadi sebuah alarm. Lalu, alarm ini ternyata juga memiliki hubungan dengan simbol ESD/FGS tadi. Hubungannya adalah ketika Level/ketinggian fluida di dalam vessel menyentuh Alarm Low atau Alarm High, maka sistem ESD akan mengambil alih kendali dari LIC, sehingga nantinya sinyal yang akan dikirimkan ke Tag Number 436-LV-101 adalah sinyal Diskrit (On/Off) saja untuk membuka/menutup valve. Tujuannya adalah safety pada proses yang sedang berjalan agar tidak terjadi engine trip dan mengganggu jalannya proses produksi.

    Di P&ID contoh ke-2 ini juga kita dapat mengidentifikasi tipe level transmitter yang digunakan yakni tipe displacer, kemudian untuk Tag Number 436-LV-101 di bawah simbol valve terdapat tulisan FC atau "Fail Close" yang berarti jika Control Valve tersebut "fail", maka posisi default-nya adalah tertutup. Kondisi "fail" ini dapat diartikan menjadi 2 macam, yakni "signal fail" atau tidak ada sinyal yang mengalir untuk mengendalikan Control Valve, cara mendeteksinya adalah dengan valve akan menutup meskipun proses sedang berjalan. Yang kedua adalah "air pressrue fail" atau keadaan hilangnya tekanan udara pada valve, sehingga menyebabkan positioner tidak mampu menggerakkan actuator. Okay sudah paham ya, jadi kira-kira seperti itu. Selanjutnya masuk ke pembahasan kedua yakni Instrument Index.

Instrument Index

    Apasih Instrument Index itu? Instrument index adalah sebuah dokumen yang digunakan untuk mengidentifikasi semua Instrument baik itu di field, DCS, ESD dan MCC. Baik itu field instrument, common alarm, switch, selector dlsb. Instrument index ini merupakan dokumen turunan dari P&ID. Di dalamnya terdapat informasi-informasi yang di-ekstrak dari P&ID, contohnya seperti tag number, jenis instrument, deskripsi service, nomor P&ID, lokasi instrument, sistem kontrol, line no. dan/atau equipment no., tipe input/output, scope of supply dan scope of work, nomor revisi dan dokumen referensi (P&ID).Aku akan coba jelaskan satu persatu informasi-informasi yang ada pada Instrument index ini.

1. Tag Number

    Seperti yang kita tahu tag number adalah sebuah tanda untuk mengidentifikasi sebuah instrument. Tag number ini ada soft tag number dan hard tag number. Bedanya adalah soft tag number ini merupakan tag number yang di-assign ke DCS/ESD seperti contoh alarm , switch dan lainnya. Sedangkan hard tag number merupakan tag number yang memiliki bentuk fisik seperti valve, transmitter, gauge dan field mounted switch.

2. Jenis instrument

    Jenis instrument ini digunakan untuk mengidentifikasi semua tipe/jenis instrument baik itu instrument yang memiliki soft tag number maupun hard tag number.

3. Deskripsi Service

    Deskripsi service digunakan untuk menjelaskan bahwa sebuah tag number tertentu itu memiliki sebuah kondisi service tertentu.  Misalkan untuk contoh tag number 482-TT-311 di atas, berada pada kondisi service menuju ke cold separator. 

4. Lokasi Instrument

    Lokasi instrument ini digunakan untuk mengidentifikasi letak/lokasi dari sebuah tag number tertentu. Misalkan lokasi instrument berada di field atau control room atau substation dan lain sebagainya.

5. Sistem Kontrol

    Sistem kontrol digunakan untuk mengidentifikasi tipe sistem kontrol tiap-tiap tag number. Misal tag number tersebut adalah 436-LIC-101 seperti contoh di atas berarti sistem kontrolnya adalah DCS/SCADA.

6. Line number/Equipment Number

    Line number/equipment number digunakan untuk mengidentifikasi suatu tag number itu terpasang di line (pipa) atau terpasang di equipment. 

7. Tipe Input/Output

    Tipe input/output digunakan untuk mengidentifikasi tipe sinyal yang diterima dan ditransmisikan oleh tag number tertentu. Msialkan tipe sinyal untuk Transmitter adalah analog input, untuk switch/selector adalah digital input kemudian untuk control valve merupakan sinyal analog output dan untuk on/off valve merupakan sinyal digital output.

8. Scope of supply dan Scope of Work

    Scope of supply dan scope of work biasanya sudah dapat diidentifikasi melalui P&ID, hal ini diletakkan kembali di Instrument Index untuk memisahkan mana scope of supply/work dari vendor dan kontraktor. 

9. Nomor revisi dan Dokumen Referensi

    Nomor revisi ini disesuaikan dengan nomor revisi dari P&ID. Dokumen referensi untuk pembuatan instrument index ini adalah P&ID. Jadi dokumen instrument index ini merupakan produk/dokumen deliverable turunan dari P&ID. 


    Cukup sekian penjelasan singkat tentang P&ID bagian kedua dan Instrument Index, untuk bahasan selanjutnya yakni Pengenalan tentang Proses Kontrol. So, stay tune terus di blog-ku! Terimakasih sudah membaca tulisanku, jika ada kritik, saran dan/atau pertanyaan bisa disampaikan melalui kolom komentar ya! Thank you!




Read More
    email this       edit

Senin, 14 September 2020

Published September 14, 2020 by with 9 comments

Apa itu PFD dan P&ID?

 Halo Semua, di konten ke 3 ini aku akan coba bahas tentang PFD dan P&ID dan kegunaannya untuk seorang instrument engineer. Mari kita langsung saja bahas untuk PFD dan P&ID ini. 

Process Flow Diagram (PFD)

Process Flow Diagram (PFD) adalah gambar atau diagram yang menunjukkan tentang secara keseluruhan bagaimana sebuah proses dalam plant/pabrik berjalan. PFD menunjukkan proses utama pada sebuah plant, skema kontrol utama, serta material and heat balance pada setiap mode operasi. PFD harus menunjukkan process piping, simbol-simbol equipment yang major, nama dan nomor ID equipment, control logic, major control valve dlsb. PFD tidak menunjukkan minor equipment, piping system, pipe rating dll.

Contoh Process Flow Diagram

Typical Komponen Plant dan Fungsinya

Di awal sudah aku sebutin pengertian dari PFD, kegunaan dan apa-apa saja yang harus ada dalam PFD, salah satunya yakni major equipment. Berikut ini beberapa major equipment yang ada pada PFD beserta fungsinya.

1. Mechanical Equipment

1.1 Static Equipment

1.1.1 Kolom

Contoh Kolom Distilasi (Source1)

Fungsinya untuk memisahkan komponen-komponen kimia dari stock umpan (feedstock) dengan cara distilasi dll.

1.1.2 Reaktor

Sodium Cooled Fast Reactor (Source2)

Berfungsi untuk memperoleh produk dari reaksi kimia

1.1.3 Drum

Pressure Vessel (Source3)

Untuk memisahkan tiap fase dari fluida (contoh vapor, gas, liquid) dengan gravitasi

1.1.4 Heat Exchanger

Heat Exchanger (Source4)

Berfungsi untuk memanaskan atau mendinginkan fluida dengan cara menukar energi thermal dari media pemanas/pendingin (contoh: steam dan cooling water).

1.1.5 Furnace

Furnace (Source5)

Berfungsi untuk memanaskan fluida atau untuk proses thermal cracking dengan cara membakar fluida tersebut.

1.1.6 Tangki

Tangki (Source6)

Berfungsi untuk menyimpan stock umpan (feedstock), produk, dan utility

1.2 Rotating Machine (Pompa, Compressor dll.)

Pump (Source7)
Compressor (Source8)

Berfungsi meningkatkan tekanan untuk menggerakkan fluida kerja.

1.3 Packaged Equipment

1.3.1 Fasiltas Utility

Berfungsi mengatur plant utility seperti steam, air dll.

1.3.2 Material Handling Equipment

Berfungsi untuk mengatasi material solid/partikel

2. Piping

Piping digunakan untuk menyediakan rute/jalur untuk pemindahan feedstock/produk/utility dengan cara menghubungkan equipment/instrument satu sama lain menggunakan pipa-pipa.

3. Instrument

Instrument digunakan untuk mengukur dan mengendalikan fluida kerja agar kondisi operasi plant sesuai dengan yang diinginkan. Major equipment untuk field instrument adalah control valve, on-off dan safety valve.

Piping & Instrumentation Diagram (P&ID)

1. Pengertian  

Piping & Instrumentation Diagram (P&ID) merupakan sebuah diagram yang menjelaskan secara detail semua equipment-equipment, piping, instrumentasi, serta control device yang dibutuhkan untuk menggambarkan berjalannya sebuah proses pada suatu plant. 

2. Fase EPC pada P&ID

Pernah melihat gambar berikut ini di bagian bawah P&ID atau mungkin di pojok kanan bawah P&ID?

Revision No. P&ID (Source9)

Gambar ini menunjukkan bahwa P&ID yang kita identifikasi itu ternyata melewati fase-fase EPC yang udah aku jelasin di konten sebelumnya. Jadi P&ID akan mengalami revisi untuk naik fase. Revisi P&ID ini terjadi karena ada proses diskusi antar disiplin ilmu baik itu process, mechanical, piping maupun instrument sehingga meyebabkan perubahan-perubahan pada P&ID. Tidak hanya dari pihak internal EPC Company saja, perubahan P&ID juga bisa terjadi karena perubahan di lapangan dan diskusi dengan Client atau Owner. Tahapan-tahapan revisi ini dari Basic Engineering (Preliminary), FEED (AFP), Detail (AFD), Construction (AFC) hingga As Built (operasi secara commercial). Dari revisi ini akhirnya banyak informasi-informasi baru yang didapat berdasarkan hasil diskusi antar disiplin ilmu. Jadi, semua dokumen-dokumen yang berkaitan dengan project akan selalu mengikuti fase-fase EPC, termasuk P&ID ini. 

3. Scope of Work Pembuatan P&ID

Pertanyaan selanjutnya adalah sebenarnya yang membuat P&ID ini disiplin ilmu mana? Sejauh yang aku tahu, P&ID ini dibuat oleh disiplin ilmu process (teknik kimia). Aku udah sempet nanya-nanya temen-temen dari EPC Company yang lain, dan jawabannya adalah sama, yang membuat, merevisi atau mengubah P&ID ini adalah orang process. Kalau ditanya kenapa, aku gak bisa jawab pastinya cuma kalau sepengetahuanku, karena disiplin ilmu process ini yang mengerti kebutuhan-kebutuhan tiap sub-sistem dan sistem secara keseluruhan dan umumnya data-data preliminary/data awal pasti didapat dari perhitungan tiap sub-sistem dan sistem ini, sehingga P&ID lebih suitable jika di create dan diubah oleh disiplin ilmu process. Namun, disiplin ilmu lain juga memiliki kewajiban untuk mengoreksi dan memberikan komentar jika ada gambar dalam P&ID yang harus diubah, ditambah, dikurangi atau ditanyakan, sehingga jika ada perubahan maka harus diganti. Makanya tadi aku bilang ada proses diskusi yang menyebabkan perubahan pada P&ID. 

4. Informasi Penting dalam P&ID

Untuk Instrument Engineer, sebenarnya informasi apa sih yang bisa kita dapetin dari liat P&ID? Dan P&ID ini sebenarnya digunakan untuk apasih untuk Instrument Engineer? Jadi ini adalah informasi-informasi yang bisa didapat dari membaca P&ID. 

    a. Jumlah Tiap-Tiap Field Instrument

        Kepikiran nggak kalau jumlah instrument ini adalah informasi yang penting? Kalo enggak berarti kamu masih perlu belajar lagi nih, apasih guna jumlah tiap-tiap instrument? Jumlah tiap-tiap instrument ini digunakan untuk mengetahui nanti pada saat fase procurement kita bisa tahu kebutuhan di tiap-tiap instrument ini jumlahnya butuh berapa banyak. Gak mungkin kan kita memesan barang kurang dari kebutuhan? Nah, sama jumlah tiap field instrument ini benar-benar harus dihitung dengan pasti, agar di fase procurement jumlah barang yang kita pesan bisa sesuai dengan kebutuhan. 

    b. Tipe-Tipe Instrument

        Tipe-tipe instrument juga harus dipahami, mulai dari transmitter (pressure, temperature, flow, analyzer), control valve (motor/pneumatic), on-off valve, safety valve, alarm (Low-Low, Low, High, High-High), Indicator DCS (pressure, temperature, flow, analyzer), Sensor/wetted element (pressure, temperature, flow, analyzer). Informasi-informasi ini semua ada dalam P&ID dan dilambangkan dengan singkatan (identification letter) dan simbol. 

        Standard Internasional yang digunakan untuk mengidentifikasi semua informasi tersebut yakni ANSI/ISA 5.1. Di dalam standard ANSI/ISA 5.1 tersebut dijelaskan lengkap tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan P&ID dan pengertian-pengertiannya. Berikut ini adalah singkatan (identification letter) yang dijelaskan pada standard ANSI/ISA 5.1.

Identification Letter (ANSI/ISA 5.1)

Kemudian untuk simbol-simbol pada P&ID dijelaskan oleh gambar di bawah ini.

Semua informasi tersebut di atas ada semua di dalam standard ANSI/ISA 5.1, for your information ISA merupakan singkatan dari International Society of Automation yakni sebuah asosisasi atau organisasi non-profit untuk engineer, teknisi, pengajar, pelajar yang bekerja dibidang automasi, seperti Instrumentasi.Untuk lebih lengkapnya langsung saja ke website ANSI/ISA berikut.

     c.  Tag Number

          Tag number dapat berupa angka dan huruf yang diletakkan di dekat simbol yang digunakan untuk mengidentifikasi tipe dan fungsi suatu device. 
 
Contoh Tag Number
 
Tag number ini pada P&ID merupakan gabungan antara identification letter dan simbol, untuk simbol dan penomoran pada tag ini tergantung kesepakatan atau permintaan owner yang juga disesuaikan dengan standard internasional yang ada. Biasanya tag number ini berkaitan dengan numbering pada sistem atau sub-sistem dari plant tersebut. Jika masih kebingungan untuk membaca tag number, terdapat penjelasan simbol-simbol dan identification letter yang dipakai di P&ID di bagian Legend & Symbols

     d.  Line Number / Equipment Name

         Line number / equipment name ini merupakan informasi yang digunakan untuk mengetahui di line mana suatu instrument terpasang atau di equipment apa instrument tersebut terpasang. Line number / equipment name ini nanti akan berkaitan dengan Datasheet tiap instrument. 
 

Contoh Line Number & Equipment Name

        Sama seperti tag number, untuk melihat pengertian dari line number ini dapat dilihat di bagian Legend & Symbol pada P&ID. Berikut salah satu contoh untuk melihat line numbering dan artinya.

Sistem Penomoran pada Line Number

 Jika dijabarkan sesuai dengan contoh gambar di atas maka:

8"-PT-32-408-R01N-H

8": merupakan nominal pipe size atau besar pipa dalam inch

PT:  merupakan fluida yang mengalir dalam pipa tersebut, di sini PT diidentifikasi sebagai Fluida 2 Fasa (Two Phase fluids)

32: merupakan sistem number dari line tersebut di sini 32 diidentifikasi sebagai Separation

408: merupakan sequence number dari sistem tersebut

R01N: R sebagai material pipa diidentifikasi sebagai Stainless Steel, 01 sebagai pressure rating diidentifikasi sebagai 150# lb (pounds) pressure class. N sebagai corrosion allowance merupakan safety factor pada pipa terhadap korosi, disini N diidentifikasi sebagai 0 mm sehingga line ini dianggap tidak boleh ada korosi sedikit apapun. 

H: merupakan tipe insulasi dari pipa di sini H diidentifikasi sebagai Heat Conservation. 

    e. Notes

    Ketika melihat tag number di P&ID kemudian ada tulisan note, maka pastikan note itu dibaca dan dipahami, karena itu akan sangat membantu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada tag number tersebut.

    P&ID ini memiliki fungsi sebagai input / reference data untuk membuat dokumen-dokumen lain yang akan di submit ke owner/client, salah satunya Instrument Index. Untuk selanjutnya akan dibahas lanjutan dari P&ID dan Instrument Index ini.

    Cukup sekian penjelasan singkat tentang PFD dan P&ID, untuk bahasan selanjutnya yakni akan dibahas kelanjutan dari P&ID dan Instrument Index serta kaitan antara 2 dokumen ini. So, stay tune terus di blog yang sederhana dan insyaAllah penuh manfaat ini. Terimakasih sudah membaca tulisanku, jika ada kritik, saran dan/atau pertanyaan bisa disampaikan melalui kolom komentar ya! Thank you!

 


Read More
    email this       edit

Senin, 07 September 2020

Published September 07, 2020 by with 2 comments

Teknik Fisika dan Prospek Kerja di Dunia EPC (Engineering, Procurement and Construction)

Halo semua, di konten kedua ini aku akan mengenalkan salah satu Program Studi (prodi) yakni Teknik Fisika dan juga dunia kontraktor atau EPC Company (Engineering, Procurement & Construction) dan hubungannya dengan seorang Instrument Engineer. Ok, langsung saja aku akan coba bahas topik yang pertama. 

Pengenalan Program Studi

Teknik Fisika, salah satu prodi yang mungkin terdengar asing dan mengerikan. Teknik Fisika? Belajarnya fisika terus gitu? Wah pasti sulit ya udah teknik ketambahan fisika pula dan anggapan-anggapan lain yang kadang benar dan kadang kurang tepat.Teknik Fisika, menurut pendapatku pribadi yang sudah mengenyam pendidikannya selama kurang lebih 4 tahun, ternyata prodi ini tidak se-mengerikan itu. By the way, penyebutan untuk teknik fisika ini ada 2 yakni teknik fisika dan/atau fisika teknik. Namun intinya adalah sama yakni sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tentang banyak hal yang berkaitan dengan engineering & teknologi. Teknik Fisika mencakup bidang-bidang keahlian seperti Rekayasa Material (belajar tentang sifat2 metal, logam, alloy, semikonduktor, superkonduktor, komposit smart material yang bisa self-healing, self-cleaning dll.), Rekayasa Akustik (yang belajar tentang vibrasi, gelombang, resonansi dll.) Rekayasa Energi (belajar tentang mekanika fluida, rekayasa dan kenyamanan thermal, perpindahan panas dan massa dll.), Rekayasa Optik (yang belajar tentang lensa cembung, lensa cekung, fiber optic single mode, multi-mode, laser dll.), Rekayasa Instrumentasi & Kontrol (yang belajar tentang field instrument, metode kontrol, PID, P&ID, PLC, DCS, SCADA dll.) ada juga belajar tentang coding, jaringan dan teknologi informasi.

Prodi Teknik Fisika ini berada di 8 Universitas yang tersebar di seluruh Indonesia diantaranya ITB, ITS, UGM, Telkom University, Universitas Nasional, Surya Universtiy, Sekolah Tinggi Teknologi Mutu Muhammadiyah Tangerang dan Universitas Multimedia Nusantara. Salah satu bidang keahlian dari prodi teknik fisika ini adalah Instrumentasi & Kontrol, seperti yang sudah pernah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya di sini.

Prodi selain Teknik Fisika yang membahas tentang bidang keilmuan Instrumentasi & Kontrol ini juga sudah banyak di Indonesia, diantaranya PEM Akamigas dengan nama prodi Teknik Instrumentasi Kilang, kemudian UB dengan Teknik Instrumentasi, UGM dengan Elektronika dan Instrumentasi, Teknik Instrumentasi dan Kontrol Industri di PNJ dan masih banyak lagi prodi-prodi yang berkaitan dengan bidang Instrumentasi & Kontrol yang belum tersebut satu per satu. Hal ini akan berdampak pada lebih banyaknya lulusan-lulusan dari bidang keahlian ini dan membuat orang-orang akan mulai mengetahui tentang bidang ilmu Instrumentasi & Kontrol.

Tentang EPC Company

Pembahasan selanjutnya adalah tentang dunia Engineering, Procurement & Construction (EPC) dan hubungannya dengan seorang Instrument Engineer. EPC Company adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang rekayasa dan konstruksi. EPC Company tidak hanya selalu berkaitan dengan pembangunan Kawasan Industri. Namun, bisa jadi EPC Company juga bergerak di bidang pembangunan jalan tol, gedung perkantoran, sarana & prasarana umum, pusat perbelanjaan, kawasan pertambangan dan lain sebagainya.

Di sini aku akan coba lebih spesifik membahas tentang EPC company yang bergerak di bidang pembangunan kawasan / pabrik / plant Industri dan lebih spesifik ke disiplin ilmu instrument & control. Jadi di EPC Company ini ada fase-fase dari tahap proposal hingga pada saat plant akan dijalankan sepenuhnya (fase start-up). Fase-fase tersebut antara lain:

         1. Proposal

        Tahap proposal ini adalah tahap awal sebuah EPC Company untuk mendapatkan sebuah project. Sama seperti penyusunan proposal untuk lomba karya tulis ilmiah, tapi ini disusun oleh sebuah perusahaan. Banyak aspek yang akan ditanyakan oleh client contohnya terkait dengan safety, cost, efek terhadap lingkungan dan lain sebagainya. Setelah itu ditentukan pemenang dari tender project ini. Setelah fase proposal, EPC Company akan ditunjuk sebagai main contractor untuk suatu project. Berikut gambaran fase-fase setelah proposal ini. 

 

    Setelah suatu EPC company berhasil mendapatkan project masuklah ke fase awal yakni engineering

         2. Fase Engineering

        Di fase ini dibagi menjadi beberapa fase lagi yakni basic engineering, front-end engineering design (FEED) kemudian ke Detail Engineering Design (DED).Di setiap fase akan ada laporan yang dapat berupa dokumen-dokumen deliverable yang akan di-submit ke client. Kira-kira seperti ini gambaran untuk fase engineering.

   

          Dapat dilihat dari gambar di atas bahwa semakin tinggi fasenya maka ketersediaan informasi dari semua displin ilmu akan semakin banyak dan dari segi waktu akan semakin memakan waktu lebih banyak.  

        3. Fase Procurement 

        Setelah melewati detail engineering dan data-data yang dibutuhkan untuk berbagai dokumen sudah lengkap, maka beranjak ke fase berikutnya yakni fase procurement. Procurement adalah fase dimana kita mengirimkan penawaran ke vendor terkait instrument-instrument apa saja nih yang akan kita beli contohnya Flow element, Transmitter, control valve, sistem DCS, analyzer (jika ada), PSV, RO dan lain sebagainya sesuai dengan data yang ada pada fase detail engineering. Setelah penawaran ke vendor dilakukan maka akan terjadi proses tawar menawar harga dan kita tentukan vendor mana yang akan menyuplai instrument-instrument yang kita desain. Untuk lebih mudahnya aku beri contoh sederhana aja deh. Misalkan aku mau beli laptop/smartphone, pasti aku udah punya spesifikasi dari barang yang mau dibeli, misal kamera belakang harus 16 MP, memori internal harus 128GB, harus support NFC dan spesifikasi lainnya, nah aku cari nih siapa yang punya spesifikasi smartphone itu dan harganya paling murah. Inget, yang pertama itu harus sesuai dengan spesifikasi ya yang kedua baru masuk ke harga yang paling murah. Jadi seperti itu untuk fase procurement ini.

        4. Construction

Selanjutnya adalah fase construction, yakni fase pengerjaan di site. Fase construction ini meliputi pekerjaan-pekerjaan unpacking barang-barang yang sudah dibeli dari vendor, quality control dan quality assurance dari barang yang sudah dibeli, kemudian instalasi field instrument, wiring cable dari field ke control room dan instalasi oleh disiplin ilmu lain seperti electrical, piping dan mechanical.  Kemudian memastikan bahwa instrumen yang di-install sudah sesuai dengan gambar yang ada di P&ID, sesuai plot plan, letaknya sesuai dengan gambar 3D dan dapat dioperasikan dengan benar. Dengan cara mengecek wire connection agar tidak grounding/short baik itu di sisi field instrument, di substation maupun di control room, lalu cek bahwa indikator sinyal dari field sudah masuk dalam sistem kontrol/DCS yang ada di control room.   

         5. Pre-Commisioning dan Commisioning

Setelah fase construction, masuk ke tahap pre-commissioning dan commissioning. Tahap pre-commissioning ini merupakan tahap untuk memastikan bahwa field instrument dapat mengirimkan sinyal dan dapat dikendalikan oleh sistem kontrol (DCS), melalui prosedur yang dinamakan dengan loop test dan function test. Loop test adalah sebuah prosedur yang digunakan untuk mengetahui apakah field instrument yang sedang di tes memiliki nilai yang sama atau ekuivalen dengan Human Machine Interface (HMI) di DCS. Function test merupakan sebuah prosedur yang digunakan untuk memastikan bahwa sebuah kesatuan sistem yang sedang di tes mampu melakukan fungsinya dengan baik, contohnya, ketika transmitter diberi masukan sinyal dari DCS, apakah control valve akan mampu merespon dengan bergerak sesuai dengan sistem kontrol yang dibuat. Function test juga digunakan untuk memastikan fungsi logic dari sistem emergency shutdown dapat berfungsi dengan benar. Fase commissioning adalah fase dimana beberapa equipment sudah mulai di-energize, pipa-pipa sudah mengalirkan fluida, transmitter sudah mulai bisa membaca aliran fluida, temperature dan pressure di pipa yang sudah dialiri fluida kerja, control valve memulai untuk mengatur laju aliran di pipa dan lain sebagainya.

         6. Fase start-up 

Ini adalah fase terakhir dimana sebuah plant sudah siap untuk dioperasikan secara komersial.

         EPC in a Nutshell

Fase-fase pekerjaan di atas adalah dalam kondisi ideal, banyak sekali kondisi-kondisi aktual yang mengharuskan seorang instrument engineer mengambil keputusan untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada dan target timeline yang ditetapkan. Misalnya, pada fase procurement atau saat memberi penawaran ke vendor, ada data yang masih belum confirm (sering kali terjadi), ada data yang masih di-hold menunggu konfirmasi dari displin ilmu lain, bahkan kejadian jumlah instrument yang dibeli menjadi lebih karena ada pengurangan, dan sebaliknya kekurangan jumlah instrument karena ada penambahan di P&ID (biasanya jarang sekali terjadi).  Di fase konstruksi malah lebih banyak kondisi-kondisi tidak terduga muncul, kadang sudah masuk ke tahap pre-commisioning, report sheet untuk QA/QC dari field instrument hilang, dan harus dilakukan pengecekan ulang di lapangan, dan itu semua adalah tugas dan tanggung jawab seorang instrument engineer, yakni memastikan seluruh field instrument, sistem kontrol dan interface dengan disiplin ilmu lain tidak bermasalah dari fase ke fase. 

Instrument Engineer di EPC Company

   
Dari kasus-kasus tersebut, sebagai seorang instrument engineer yang bekerja di perusahaan rekayasa & konstruksi (EPC) maka harus memiliki beberapa skillset yang mendukung kinerja yakni diantaranya:  

1.       Instrument Engineer harus mengikuti dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan lingkungan. Karena sebagai instrument engineer kita dituntut untuk berkoordinasi dengan client, vendor, sub-contractor dan juga disiplin ilmu lain seperti mechanical, electrical, piping dan lainnya.

2.       Instrument engineer juga harus bisa menguasai secara teknikal maupun managerial. Karena instrument engineer dituntut untuk mampu menyelesaikan masalah-masalah teknikal yang terjadi, dan juga dituntut untuk berinteraksi dan mengatur schedule dan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh subkontraktor dan juga vendor. Instrument engineer juga harus mampu melakukan lobby-lobby ke client terkait hal-hal teknikal maupun managerial.

3.       Instrument engineer harus memiliki sifat ingin tahu yang tinggi terhadap perkembangan masalah-masalah teknikal yang terjadi. Karena client akan membutuhkan bantuan kita untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

 Cukup sekian penjelasan singkat di-posting-an kali ini, untuk konten aku akan coba bahas pengenalan tentang PFD dan P&ID. So, stay tune terus di blog aku yang sederhana dan insyaAllah bermanfaat ini. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca blog-ku ini, mari kita diskusi tentang topik ini dan jika ada koreksi, saran serta kritik dapat disampaikan melalui kolom komentar. Thanks a lot!


 

 

Read More
    email this       edit